Belum kering tanah di kuburan Ayahnya. Kinanti harus mendapat suatu masalah lagi. Yaitu sikap dingin dari kekasihnya Kevin. Entah kenapa?
Di sebuah taman tidak jauh dari rumah Kinanti. Kinanti menyeka air matanya dengan tissue yang diberi oleh Kevin yang duduk di sampingnya. Tampaknya ada kegundahan di wajah Kevin.
“Kinan, ada yang harus kubicarakan padamu, Penting.” ucap Kevin tiba-tiba.
Kinanti menoleh ke arahnya, memandangi wajah Kevin dengan penuh tanda tanya.
“ada apa?” hanya dua kata yang mampu Kinanti ucapkan.
“kamu boleh menganggapku tega, pembohong dan pengkhianat Nan..” ucap Kevin mengebu-ngebu. Dan semakin membuat Kinanti penasaran.
“ada apa, Vin? Kamu nggak biasanya ngomong kayak gini? Kamu pikir aku bodoh mengatakan hal seperti itu padamu? Apalagi kamu kekasihku!” dengus Kinanti kesal dengan ucapan Kevin.
Dengan lembut, Kevin menggenggam erat tangan Kinanti.
“Kinanti, dengarkan aku..” ucap Kevin dan berhenti sejenak mengatur nafasnya perlahan.
“aku harus sekolah di luar negeri! Besok aku akan pergi ke bandara.”
seperti disengat lebah. Sontak Kinanti terkejut dan langsung mengibaskan genggaman tangan Kevin.
“apa Vin? Berarti kamu akan ninggalin aku sendiri disini..” rintih Kinanti. Karena dia sudah membayangkan betapa sepinya dirinya nanti tanpa Kevin. Ayahnya sudah meninggalkannya juga untuk selama-lamanya.
“dengarkan aku dulu Nan..” pinta Kevin. Tapi, Kinanti terlanjur kecewa dengan Kevin. Dan langsung berlari meninggalkan Kevin begitu saja.
Kinanti menangis sepuasnya di dalam kamarnya sore ini. Hujan rintik-rintik di luar sana. Seolah merasakan apa yang dirasakan Kinanti. Gadis berumur 16 tahun. Yang masih duduk di bangku kelas 3 SMU itu. Kinanti sangat meratapi dirinya yang sungguh malang. Pada siapa lagi dia mengadu. Ayahnya sudah pergi untuk selamanya dan Kevin kekasihnya akan pergi meninggalkannya juga. Sedangkan Ibu Kinanti sudah meninggalkannya sejak berumur 2 bulan.
Hati Kinanti sangat perih, terluka, dan bahkan hampir patah. Andai siapapun orang yang sedang berada di posisinya sekarang ini pasti akan merasakan hal yang sama.
Hari ini adalah hari Kevin pergi ke luar negeri ke San Fransisco untuk menyambung masa SMUnya sekaligus langsung kuliah disana. Kevin sangat menginginkan kehadiran Kinanti untuk mengantar keberangkatannya. Tapi saat ditelpon beberapa kali ponsel Kinanti tidak aktif. Kevin berangkat dengan rasa kecewa. Tapi sebelum berangkat Kevin menitipkan surat pada Ibunya untuk diberikan pada Kinanti, pujaan hatinya.
Namun nasib berkata lain, tak disangka. Bahwa keberangkatan Kevin ini membawanya pada jurang kematian. Keadaan cuaca yang tidak cukup mendukung dan sering terjadi badai angin. Pesawat yang ditumpangi Kevin hilang kendali. Dan jatuh dengan mengenaskan.
Tiba-tiba sore itu dengan tergopoh-gopoh Bi Ijah pembantu Kinanti. Segera mengetok pintu kamar nona majikannya itu.
“Tokk… tokk.. tokk.. Non.. Non kinanti?!” panggil Bi Ijah dengan nada cemas.
“ada apa Bi” Kinanti langsung membukakan pintu kamarnya.
“itu.. Non.. Tanpa sengaja, bibi melihat di televisi tadi ada berita tentang kecelakaan Pesawat jatuh..” ucap Bi Ijah tanpa basa basi.
Jantung Kinanti berdesir dengan cepat. Tanpa banyak bicara lagi. Kinanti langsung berlari menuruni tangga loteng menuju ruang tengah. Dan langsung menghidupi televisi. Dan dia mengubah channel ke beberapa stasiun tv swasta. Dan dia menemukan di salah satu berita utama di salah satu stasiun tv swasta. Dan disitu diberitakan pesawat jatuh pada sekitar pukul 10:00 wib, akibat cuaca buruk dan menelan korban hampir separuh penumpang dan sebagian lainnya mengalami cedera dan luka parah.
Saat pembawa acara menyebutkan nama-nama korban yang meninggal, nama Kevin Kurniawan salah satunya.
Kinanti terduduk lemas. Dan langsung menjerit dalam tangisannya. Kini dia benar-benar merasa sendiri di dunia ini. Semua orang yang dia sayangi kini pergi satu persatu meninggalkannya. Dan kekasihnya pun juga pergi untuk selama-lamanya. Kini hati Kinanti terluka parah, benar-benar patah dan hancur berkeping-keping.
Pada saat selesai acara pemakaman.
Kinanti diberi sepucuk surat berwarna merah dari Ibu Kevin, yang Kevin titipkan pada ibunya sebelum dia berangkat dan pergi untuk selamanya.
“Dear Kinanti Azhari..
Sayang, ku tahu kamu pasti membenciku. Karena ku pergi saat kamu dalam keadaan hancur. Aku memang tidak pantas disebut sebagai kekasih yang baik. Tapi, asal kamu tau cintaku padamu nggak akan pernah padam. Walaupun kamu membenciku sekalipun, Sayang. Aku akan tetap menyayangimu.
Jika ku tak kembali lagi. Jangan pernah menyerah! Tetap jalani kehidupanmu. Doaku menyertaimu, Sayang.
Goodbye.
By: Kevin Kurniawan”
Setelah membaca surat Kevin. Kinanti langsung menangis. Ibu Kevin seolah merasakan kepedihan hati Kinanti. Lalu, Ibu Kevin memeluk Kinanti dengan penuh kasih sayang. Ibu Kevin berusaha menenangkan hati Kinanti dan juga menguatkan hatinya yang juga merasakan kehilangan.
“Selesai”
Cerpen Karangan: Mariana
Facebook: Mariana Akiva Allonia Bethseda
Twitter: @Mariana_Akiva
ini adalah cerpen pertamaku. Terimakasih atas perhatiannya.