Angel, itulah namaku. Kata papa aku anak istimewa, kata mama aku berbeda dengan yang lain. Tapi perbedaan itu yang selalu membuatku bertanya tanya, kenapa aku harus dilahirkan ke dunia ini? aku cukup lelah membawa beratnya beban hidupku. Untung saja aku mempunyai orangtua yang sabar merawatku.
Saat dikelas, semua teman temanku mengejekku. Tetesan air mata mulai membasaih pipiku. Tiba tiba seorang laki laki dari belakang mendorong kursi rodaku hingga ketempat dudukku. Ternyata itu Ivan. Ivan adalah sahabatku, di kelas hanya dia yang baik kepadaku.
Aku dan Ivan mengikuti pelajaran seperti biasa.
Setelah pelajaran berakhir, akupun pulang. Papa sudah menungguku.
“bagaimana Angel sekolahnya?” tanya papa
Aku tidak menjawab perkataan papa, papa menggendongku kedaam mobil, lalu kursi rodaku dilipat dan ditaru didalam mobil.
Saat di dalam mobil aku bertanya kepada papa “pa kapan ya aku bisa berjalan seperti ayaknya orang normal?” tanyaku kepada papa
“Angel, semua itu ada waktunya, Tuhan sudah punya rencana indah untuk hidup kamu. Percayalah dan terus berdoa” jawab papa kepadaku.
Sesampai di rumah papa menggendong ku sampai kekamarku. Di kamar aku berdoa kepada Tuhan “Tuhan, Angel ingin sekali seperti teman teman Angel yang lain. Angel capek hidup seperti ini, Angel punya banyak beban ya Tuhan, Angel hanya ingin bisa berjalan. Hanya ini saja permohonan Angel, Amin”
Setelah selesai berdoa aku teringat kejadian di sekolah, setiap hari teman teman selalu mengejekku.
Selama di kamar aku hanya bisa meneteskan air mata.
Akupun menyanyikan lagu Tuhan Pasti Sanggup.
“Tuhan pasti sanggup, tangan nya tak terlambat tuk menopangku
Tuhan masih sanggup percayalah dia tak tinggalkanmu”
Angel benar benar menyanyikan dari hati. Diapun mencoba berjalan dengan tongkatnya.
“kok kaki ku bisa diangkat?” tanyaku sambil mengusap air mata
Pelan pelan tongkatnya di lepas, Angelpun mulai berjalan
“aku bisa berjalan? terima kasih ya Tuhan mukjizatMu selalu nyata bagi orang percaya” seruku dalam hati.
Aku pun menghampiri papa dan mama di ruang keluarga.
“pa, ma aku bisa berjalan, semua ini karna Tuhan, betul kata papa dan mama bagi Tuhan tak ada yang mustahil” seruku kepada papa dan mama.
Papa dan mama memelukku, lalu kita bernyayi lagu Bagi Tuhan Tak Ada Yang Mustahil. Setelah selesai kami berdoa bersama.
Cerpen Karangan: Natalia Melati