tentang ayah

Dibalik Diam Tersimpan Sayang Ayah
(Jamilah) Di bawah cahaya rembulan di sejuknya
malam ku pandangi bintang yang seakan-
akan tertawa berkedip memanggilku, desir
angin seakan menyentuh tubuhku, udara
yang sejuk, daun-daun yang seakan menari-
nari menambah keindahan malam itu. Tanpa ku sadari lamunanku tertuju pada sesosok
bayangan yang begitu berarti dalam hidupku.
Senyum dan semangatnya yang selalu
membuat aku bersemangat dalam menjalani
hari-hariku. Nasihatnya yang selalu aku
ingat dalam setiap langkahku. Tanpa ku sadar air mataku menetes ketika aku
mengingat sosok yang baik itu. Ya… dia
adalah ayahku, pahlawan yang sudah sangat
amat berjasa dalam kehidupanku, meski
sosoknya yang terlihat keras, kaku, dan
tidak pernah perduli pada ku, dan kedua saudaraku, tapi aku yakin dalam hatinya dia
amat sayang pada kami meski dia tidak
pernah menunjukkan rasa sayangnya secara
langsung pada kami. Ayah paling bisa
membungkus rasa cinta dan sayangnya itu
dalam diamnya. Pernah pada waktu itu kakakku yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta mendapatkan kesempatan dari kampusnya untuk pergi ke luar negeri. Tak heran menurutku kalau kakakku mendapatkan itu semua, karena dari SMP sampai SMA ia selalu
terpilih untuk mewakili sekolahnya untuk lomba, baik itu tingkat kecamatan sampai provinsi. Ia pun langsung mengatakan pada ayah dan ibu berita bahagia itu ketika kami sedang berkumpul di ruang tamu. “Yah, bu, aku terpilih untuk mewakili kampus untuk pergi ke luar negeri lho” dengan semangat kakakku mengatakan itu pada ayah dan ibu. “Wah… beneran itu kak?” tanyaku penasaran. “Ya bener dong, masak kakak bohong” jawabnya dengan nada yang masih semangat. “Allhamdulilah, kalau begitu. Tapi ingat jangan hanya ilmu duniawi saja yang dicari, ilmu akhirat pun harus dicari dan diamalkan” ucap ibu dengan suara halusnya. “Denger tu kak, apa kata ibu” ledekku. “Huuuu, dasar seneng kamu ya, iya ibu sayang, aku pasti ingat itu” jawab kakakku sambil meluk ibu. “Huuuh, dasar anak manja. Ouwh ya, selamat ya kakakku yang paling ganteng setelah ayah tentunya he..he…atas terpilihnya kakak untuk mewakili kampus kakak, nanti kalau kakak jadi pergi, jangan lupan oleh-olehnya ya kak”. godaku yang dilanjut dengan ucapan selamat dari ibu dan adikku yang juga menuntut oleh-oleh dari kakak. Ayah yang dari tadi sibuk dengan buku dan kopinya, tidak menghiraukan kegembiraan kami berempat. Disela-sela tawa kami berempat, aku menghampiri ayah. “Ayah, ayah kok gak ngucapin selamat buat
kakak, ayah mau dibawain apa nanti, kalu kakak pulang, jarang-jarang lho yah kakak ke luar negeri” tanyaku pada ayah dengan manja sambil dengan penasaran menunggu jawaban dari ayah, namun cuma dibalas dengan senyuman oleh ayah. Melihat hal itu aku langsung pergi ke kamar dengan wajah cemberut. Sejak kejadian itu aku terus berpikir, kenapa ayah tidak pernah mengucapkan selamat pada kami, ku ingat dan terus ku ingat berapa kali sudah kakak memenangkan perlombaan dan juga juara kelas, begitu juga aku dan adikku tapi tidak satu pun ucapan selamat keluar dari mulut ayah. Jangankan mengucapkan selamat menunjukkan rasa bangganya pun pada kami tidak. Aku mulai berpikir macam-macam tentang ayah, apa yang menyebabkan ayah bersikap seperti itu
pada kami? apa ayah tidak menyayangi kami? apa yang harus kami lakukan agar ayah bangga pada kami? berbagai pertanyaan pun muncul dari otakku. Kalau dipikir-pikir lagi seandainya posisi ayah digantikan dengan orang lain, mungkin orang tersebut akan merasa bangga melihat apa yang didapatkan oleh anak-anaknya. Tapi tidak bagi ayahku, ketika kami mendapatkan
hal itu dia malah tidak peduli dan seolah-olah tidak bangga dengan apa yang kami peroleh. Memang ayahku adalah sosok yang pendiam, bicara pada kami pun jika ada perlu saja. Mungkin inilah yang membuat dia bersikap seperti itu pada kami. Aku pun semakin penasaran pada ayah, akhirnya aku beranikan diriku bertanya pada ibu. “Bu, sifa boleh nanya?”. Tanyaku pada ibu ketika ibu sedang memasak. “Tanya apa sayang, serius banget kayaknya” jawab ibu dengan sedikit menyelidik. “Ini bu tentang ayah” dengan nada ragu aku bertanya. “Ayah kenapa?” Tanya ibu dengan raut muka yang penasaran. “Gak kenapa-kenapa kok bu, cuma mau nanya aja kenapa sih ayah kelihatannya gak pernah peduli pada kami, ketika kami mendapatkan juara atau memenangkan perlombaan, ayah pasti diam. Ayah gak pernah nunjukin kalau ayah senang dan puas dengan apa yang kami dapatkan. Ayah juga gak pernah nunjukin kalau ayah sayang sama kami. Sebenarnya ayah itu sayang gak ya sama kami?”. “Kamu kayak gak tau ayah kamu saja. Mana ada sayang ayah yang gak sayang sama anaknya. Ayah juga bangga dan sayang kok sama kalian, meski dia selalu diam tapi ibu yakin bahkan sangat yakin kalau dalam hatinya dia sayang sama kalian. Hanya saja ayah tidak menunjukkannya pada
kalian. Kan rasa bangga dan rasa sayang juga gak harus selamanya diperlihatkan kan1”. Jawab itu sambil menenangkanku “Emmm…gitu ya bu, tapi aneh aja bu menurut sifa” “Sudah gak usah berpikir yang macam- macam tentang ayah, yang perlu kamu tahu ayah sayang kalian”. Tenang ibu sambil menatapku. “Iya bu, terima kasih” jawabku dengn ragu. Setelah beberapa hari aku menanyakan hal itu pada ibu. Pada suatu malam aku terbangun dari tidurku ketika aku hendak ke kamar mandi aku melewati kamar ayah dan ibu. Dari balik pintu aku mendengar ayah sedang berdoa dengan khusyuk. Ku tempelkan telingaku ke pintu kamar ayah dan ibu karna doa ayah yang mengantarkan aku untuk mendengarkan itu semua. Dari balik pintu itu aku mendengar ayah menangis sambil mendoakan kami, ku terus dengar doa-doa ayah untuk kami. Sekali- sekali aku menangis juga mendengar doa- doa ayah untuk kami. Sejak malam itu aku tahu kalau ayah benar-benar sayang sama kami. Keesok harinya ketika aku hendak berangkat ke sekolah, ku lihat ayah sedang duduk di meja makan, sambil sesekali menghirup kopi yang di buat ibu. Aku tidak tahu kenapa pagi itu aku merasa kangen sekali sama ayah, kutatap wajah ayah yang tanpa ku sadari mulai tua, tubuhnya yang semakin kurus membuat aku sangat bersalah pada ayah karena telah berburuk sangka pada ayah. Kulangkahkan kakiku untuk melakukan pekerjaan rutinku setiap aku akan pergi ke sekolah, ketika kucium tangan ayah tanpa ku sadar air mataku menetes di tangan ayah, sebelum aku benar- benar menangis ku peluk ayah. “Ayah, maafin sifa” ucapku sambil terus menagis, namun ayah tetap diam “Sifa minta maaf karena telah berburuk sangka pada ayah, tapi sekarang sifa tahu biarpun ayah diam dan tidak pernah menunjukan kalau ayah peduli, cinta, dan sayang pada kami, tapi dalam hati ayah, ayah benar-benar sayang sama kami. Sekarang. Sekali lagi Sifa minta maaf”. Mendengar hal itu ayah tersenyum dan semakin erat memelukku. “Ayah tahu nak, apa yang kamu pikirkan tentang ayah. Asal kamu tahu ayah sangat sayang sama kalian. Walau pun ayah tidak pernah menunjukkan itu semua. Bagi ayah kalian adalah harta yang paling berharga dalam hidup ayah yang gak akan pernah tergantikan oleh apa pun di dunia ini, dengan melihat kalian tersenyum, jadi anak yang soleh dan sholeha saja sudah membuat ayah bahagia dan bangga pada kalian tanpa harus kalian juara di kelas, atau memenangkan perlombaan atau apa pun itu. “Fa…sifa…sifaaaa” Panggil seseorang yang mengagetkanku. “Eh.a…I.iaa wa” Ucapku terkaget. Lamunanku kini berganti dengan sepi dan kelam saat ku dengar namaku dipanggil oleh teman sekos ku Najwa yang kulihat bengong melihat aku yang duduk diam di kursi dengan buku-buku yang berantakn di meja belajarku. “Lagi ngapain jam segini belum tidur?” Tanya Najwa sambil mengucek-ngucek matanya yang sedari tadi tidur “Gak ngapa-ngapain kok, udah tdur aja lagi” bujukku “Kamu nangis ya” Tanya Najwa dengan penasaran karena mataku sebab sedari tadi nangis “Gak kok, Cuma kelilipan aja” elakku “Udah, ngaku aja, kamu ada masalah ya? Cerita aja sama aku, siapa tahu aku bisa bantu” “Emmm… gak pa-pa kok wa, aq Cuma kangen sama ayah aja” “Walah, kirain ada masalah apa, udah kalau kangen telpon aja” “Besok aja wa, jam segini orang rumah juga udah tidur, aku juga gak mau ganggu istirahat mereka” “ Ya sudah, kita tidur aja bsok kan kita kuliah masuk pagi lagi” “Yya wa, kamu tidur aja dulu, aku mau rapikan buku-buku ini dulu” sambil menunjuk tumpukan buku disamping ku. “ Ya udah kalau gitu” Jam menunjukkan pukul 00.30 wib, aku
bergegas menuju tempat tidur. Sebelum tidur
kutitipkan sebuah kata terima kasih untuk
sang maha pencipta, karena tlah Ia
karuniakan kepadaku seorang ayah yang
begitu hebat dan sangat menyayangiku dan keluargaku. Ku lanjutkan doa ku dengan doa
kedu orang tua sebelum aku benar-benar
tertidur. “Bismillah Hirrahman Nirrahim. Robbighfir
lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa
robbayaanii shoghiiroo. Ya Tuhanku!
Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah
mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Sumber: http://sanggarsastraunsri.wordpress.com/2013/12/04/dibalik-diam-tersimpan-sayang-ayah-jamilah/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *